Sunday, April 15, 2007

ATM BCA devastating

Bismillahirahmanirrahim, Ini adalah surat kekecewaan nasabah BCA untuk surat pembaca harian umum Pikiran Rakyat di Bandung. Surat ini dimaksudkan untuk mengkomunikasikan kejadian yang bisa menjadi concern semua orang, semoga kasus ini tidak akan terjadi lagi kepada siapapun. Surat ini ditulis karena sistem yang membuat nasabah berada dipihak yang lemah dan tidak bisa menunjukan data yang sebenarnya terjadi. Sesuatu telah terjadi di ATM BCA tanpa sepengetahuan pihak BCA.



Dengan Hormat,

Kasus di ATM BCA Taman Kopo Indah (Bandung) - sangat mengecewakan, Nasabah Berada di Pihak yang Lemah

Hari sabtu kemarin lusa tanggal 14 April 2007, kami mendapat surat pemberitahuan dari BCA bahwa "pengambilan ATM tanggal 29 Maret 2007 lalu terhitung dua kali pengambilan", padahal kami hanya mengambil satu kali. Kasusnya berawal dari pembukaan rekening baru di BCA Kantor Cabang Utama Sukarno Hatta. Tanggal 29 Maret 2007 hari Kamis adalah pengambilan dana pertama lewat ATM yang berlokasi di Taman Kopo Indah. Waktu itu kami bermaksud mengambil uang sebesar Rp. 1.900.000,00 dengan rencana pengambilan dua kali, pengambilan pertama sebesar Rp. 1.250.000,00; (sesuai dengan menu yang tertera di layar mesin ATM) tapi ketika akan mengambil yang (rencananya) berikutnya sebesar Rp. 650.000,00 lagi, dana yang tersedia "tidak cukup" padahal di rekening itu seharusnya masih ada dana sebesar Rp. 1.390.000,00 (setelah pengambilan Rp. 1.250.000,00). Dana yang tersisa ternyata hanya ada Rp. 140.000,00. Sangat disesalkan, struk ATM tidak keluar. Esoknya kami melaporkan kejadian yang sangat mengherankan ini ke BCA tempat membuka rekening. Petugas di BCA memberi keterangan dari data komputer bahwa pengambilan ATM dilakukan "dua kali" padahal uang yang diambil dari ATM hanya Rp.1.250.000,00 sebanyak satu kali. Benar-benar tidak masuk akal: mengambil satu kali dianggap dua kali pengambilan. Katanya kejadian ini akan diproses selama dua minggu dan datanglah surat pemberitahuan tersebut. Kejadian ini bukan rekayasa dan ini demi Allah benar-benar terjadi dan sangat merugikan kami.

Yang sangat disesalkan adalah ATM BCA (Taman Kopo Indah) tidak mengeluarkan struk pengambilan sehingga kami tidak bisa menunjukkan bukti pengambilan yang seharusnya diberikan oleh BCA kepada kami sebagai hak nasabah. Ketiadaan tanda bukti atau struk pengambilan menjadikan nasabah berada di pihak yang lemah sedangkan menurut keterangan pihak BCA komputer mencatat secara akurat pengambilan di ATM BCA Taman Kopo Indah sebanyak dua kali (berdasarkan surat pemberitahuan dari BCA) yaitu pada pukul 15.40 terjadi pengambilan Rp. 1.250.000,00 dan pada pukul 15.41 terjadi pengambilan 1.250.000 sedangkan kejadian yang sebenarnya terjadi adalah penarikan hanya terjadi sekali saja dan uang yang diterima hanya Rp. 1.250.000,00. Selisih waktu hanya 1 menit, entah apa yang terjadi di ATM sana?

Maka satu-satunya cara mengkomunikasikan concern ini adalah dengan menulis surat kepada "SURAT PEMBACA - Pikiran Rakyat" untuk menghimbau para konsumen BCA untuk lebih berhati-hati dan juga pihak BCA untuk lebih memperhatikan nasabah dan berhati-hati terhadap jalur lalu lintas komunikasi bank dalam sistem IT-nya. Perhatikan kejahatan internet (hackers). Sekedar masukan positif untuk BCA, nasabah akan kehilangan kepercayaan kepada BCA dan BCA akan kehilangan banyak nasabah bila kasus ini sering terjadi. Kami tidak bermaksud mencemarkan nama baik BCA, hanya saja kami sangat kecewa telah kehilangan uang yang menurut kami sangat berarti. Mudah-mudahan pihak BCA juga bisa memberi pencerahan terhadap kasus ini. Ada apa dibalik semua ini. Saya sangat berterima kasih bila surat ini direspon.

Saturday, March 31, 2007

Log f***** off - Safe RETURN

Lately, aku harus sadar aku harus kurangi aktivitas terutama yang dealing with earning. Ada yang udah complain kalo aku harus lebih concern ama 'something more important than M'. Yang ngomplain ternyata orang yang harus aku turuti perintahnya kalo mau jadi istri sholihah. Ini semua konsekuensi dari semua kesibukan yang belakangan menguntit. Aku coba untuk pause bentar n reflect to myself, what I have to do now is supporting him for his unbelievebly hard ass Ph.D. Nothing can buy it. Sacrifice is the only way.

Lama-lama mikir, aku harus pikirin pulang juga termasuk hectic-nya packing n doing all administration matters and bills and may be tax return. Hampir tiap hari ku sempetin liat webjet.com.au siapa tahu ada ticket murah buat pulang. Kemis pagi webjet lagi on sale, ternyata SQ bisa dapet AUD$703.00. Penasaran kalo gak di browsing sampai akhir cerita aku tanya flight centre langganan yang pasti berani nurunin harga dari harga yang palin rendah sekalipun, ternyata bisa dapet AUD$ 1.243.00 termasuk Lara. Alhamdulillah. Satu agenda kepulangan beres, insyaAllah.

However, in one hand, kayaknya physically udah agak siap nich buat the safe return, at least gak kaya December kemaren yang sama sekali rasanya gak siap buat pulang. On the other hand, rasanya mentally berat sekali denger-denger kehidupan di negara asalku. Sudah pasti sistem di sana sama sekali tidak akan memberdayakan ku. Yang paling pasti penghasilan udah pasti jauh beda dengan di sini meski status pekerjaan lebih bergengsi ketimbang disini. Belum lagi, aku mikirin macet yang pasti semakin parah terutama KOPO. Tambah lagi acara TV, ketika kemaren terakhir aku liat SCTV di sebuah resto Indo yang pake parabola, ihhh ... acaranya mengerikan gimana Lara ntar. Oh ... my God berikan kesabaran dan ketabahan kalo aku pulang nanti. Salah satu cara adalah positive thinking yaitu rubah saja semua kecemasanku menjadi harapan. Harapan menjadikan semua kesusahan dan keparahan Indonesia bisa menjadi ladang amal buatku. Yang membuatku tak habis pikir adalah, penduduk yang nota bene mayoritas Islam tapi kok bisa seperti itu, korupsi sudah menjadi sebuah sistem. Korup adalah sistem yang berlaku di Indonesia mulai dari pejabat sampai grass root. Sedangkan di sini, mayoritas kafir tapi bisa mengatur dirinya sendiri dengan baik dan bahkan lebih baik dari orang-orang yang mengaku muslim.

Sabtu lalu ada dosen dari Mataram yang nginep di rumah untuk ikut pelatihan di UQ. Dia cerita begitu sulitnya menentang sistem korupsi di tempat ia bekerja, mulai dari manipulasi proyek-proyek pertanian sampai pembagian air untuk para petani pun bisa dijadikan ajang korupsi. MasyaAllah. Harus diapakan negaraku. Apakah aku akan terjebak dengan sistem seperti itu nanti ketika pulang. Aku jadi ingat tulisan di milis yang cerita ada seorang migran muslim yang berani berkata, "tinggal di Australia ini saya bisa lebih terbebas dari commiting sin, bahkan saya bisa banyak beramal dan hidup lebih sehat secara mental dan fisik". Mungkin ini aku alami sekitar dua tahun terakhir mendalami kehidupan di OZ. Tahun-tahun pertama rasanya aku belum menemukan kehidupan yang seperti dikatakan migran tadi karena kehidupan ruhiyah tak terpenuhi, sedang ketika kita ditakdirkan bertemu orang-orang saleh yang akan selalu mengingatkan kita kepada-Nya, rasanya tanah di negeri asing ini adalah tempat yag ideal untuk menjalankan semua perintah-Nya bahkan ironinya di negara yang sangat sekuler seperti ini, tapi apakah nanti ketika aku pulang bisa menjadi lebih baik. Bagaimana dengan cerita-cerita menyedihkan temen-temen yang baru pulang? Bagaimana dengan cultural schock mereka ketika berada di culture nenek moyang kita? Bisakah aku survive ...

Saturday, March 17, 2007

Sok Zebux, Click Movie Review

Suatu malem yang harusnya aku udah terpulas, ada seorang aktivis organisasi orang-orang Indo di Aussy telfon, katakan saja beliau adalah Mr. S. Saat itu aku masih harus melatih spelling-nya Lara demi lancarnya Writing Workshop Mrs. Black. Satu-satunya sisa waktu cuma malem itu ... kacian anak ku. Awalnya, Mr. S telfon minta aku buat kasih komen tentang Film Klick-nya Adam Sandler, kedengerannya sih aku cuma mau ngasih komen doang, dikirain ada mahasiswa yang mau buat penelitian dan film analysis, ternyata ada bbrp temen bilang "Mbak ... ntar jadi pembicara di acara nonton bareng yaa?" langsung ngerasa geli, ngapain aku jadi pembicara? WHAT THE ....!! sejak kapan ada joke kayak ginian? ternyata aku baru ngeh setelah liat milist ... ya ampun ... jadi dech mikir-mikir apa yang mau diomongin ya? It's been a long time I've been away from the mailist, dengan alasan klise 'sibuk', padahal sok sibuk, jadi kalo ada info aku musti ngasi komen ttg felm pun aku baru tahu setelah buka email sehari sebelum acara.

Mikir juga, WHY ME ...? Ternyata cerita si Adam sandler ini cerita orang super sibuk workacholic yang lupa family matters, sampai dia dapet pelajaran dari mimpinya seandanya dia begitu mengutamakan kerja dibanding keluarga. Su'udhzannya sich, jangan-jangan film ini mau nyidirin aku, tapi pas udah diliat, nggak kok, aku nggak nyampe gitu. Emang sich lately kegiatan begitu bertubi, mulai dari yang profitable, volunteer, kewajiban untuk keluarga dan yang di ada-adakan. I don't know why I've been trapped into 13 hours working (more or less). Tapi gimana pun I enjoy it pretty well. Niat nya sich kalo percaya tidak semata-mata money tapi experience yang harus aku bawa buat pulang nanti. And most of all I love being busy, dari pada nggossip, window shopping, browsing internet gak karuan, 'ngisi blog', ngibey mending working and working.

Sebenernya film ini udah agak lama, dan dari dulu pengen nonton cuma balik lagi trapped into all the daily bases, jadi nggak pernah ada waktu. Juga kayaknya aku harus udah insyaf dech utuk stop seeing movie, udah tua, musti mikir akhirat bow! Tapi ya akhirnya aku sempetin liat 'Click'. ..... Hari itu padat bgt, anak ku udah jemput jam 5 di kerjaan padahal selesai jam 5.30. Suami masih dikantor, jadi mobil ku ambil sendiri ama Lara, udah gitu lupa kunci, ketinggalan di kantor suami, jadi riweh lah pokoknya. Kebetulan banget hari itu Kamis jadi Indooroopilly shopping mall open till 9.00. Maka disimpulkan untuk melirik barang-barang diskon juga berkesempatan mengantar si "Mamang" n si "Bibi" jalan. Lagian ada telepon katanya di Target, summer collection udah jadi 2 dolaran walah .... gak mungkin dilewatkan. Pulang dari shopping jam 8.15 p.m. langsung jemput hubby yang dilanjutkan dengan menonton "Click" setelah makan dan mandi. Gak kuat sampai slesai soalnya udah jam 10.30 p.m. padahal aku harus pergi lagi kuli jam 00.00 a.m. Gileee bener, aku cuma tidur 2,5 jam euy hari itu. Pulang kerja jam 6.00 a.m. langsung kepikiran buat nerusin nonton soalnya ntar jam 4 aku harus siap dengan apa harus diomongin di depan orang-orang mengenai komen felm tadi. Ternyata sambungannya sangat mengharukan, pagi-pagi udah ada isak tangis ngeliat si Adam Sandler and family. Film ini memang asik buat merenung ditengah-tengah sibuknya aku. This is about refreshing comedy gags meets heartfelt, reflective story to appreciate life's little details.

Comment:
It’s a parody of everybody’s life
Instead of laughing I even cried. I felt pleasantly surprised. I couldn't help reflect upon the need to really appreciate life's little moments and close friends and family more. Walken was outstanding. Sandler was effective and really funny in his toned down approach to this more intelligent comedy than the usual Sandler fare. Kate Beckinsale is very lovable as the wife and mother of his children and Hasslehoff couldn't have been more perfectly cast as the cluelessly self-absorbed exec/ boss.

My point of view is that everything should be brought back to the 'Deen' of Islam, then we remember what we are created for, How thankful we are to the Mighty God. Then I related all I have experience from my recent busy life, the movie and my reflection from my "La Tahzan" Reading. It comes into a conclusion that

WHETHER YOU HAVE A LITTLE OR A LOT, LEARN TO BE THANKFUL

I relate the quote from La Tahzan and the Click movie.
A wise person hung up three posters in his office that he would read daily:
1.“Your today, your today” meaning life within the boundaries of today, working and striving. Looking at the movie, we can only press the 'play' button coz we can rewind or fast forward our life. Play the best what you can do today. Remember we can rewind the time.
2.“Reflect and thankful”. This might need a 'pause' button in our remote to think deeply and reflect to what we have done right or wrong.
3.“Don’t be angry”. When we are angry we want to rewind the time to avoid it or fast forwarding to skip the anger, but we can do that at all.
[La Tahzan, “Don’t be Sad”, p. 389]

Setelah slesai akyu ditanya moderator ttg cara bagi waktu untuk kelurga dan kerja. Wah jawabannya rahasia, jalanin azaa.
Sebenarnya si, secara matematis kita kalkulasi aja. Waktu cuma 24/7. In those 7 days, my permanent working time is 6 hours each day for 5 working nights from 00.00-6.00 a.m. My casual one around 6-7,5 hours each day in random days mostly from 9.30-5.00. I devide my 7 days into: Sunday to Thursday nights belongs to the permanent works. Friday - Saturday nights belong to my family. During the day, Monday to Thursday I alocate 3 days f0r casual works, so I have one day off between Monday and Thursday. On friday, I put my
"yaumal ayyam" as a special day for dedicating my self the All Mighty God, some of them are attending Lara's writing workshop with Mrs. Black, volunteering Religious Education in local school and attending Friday night sermon. It's kind of complicated, but among those hours, I spend my time with Lara for homework in between my day and night working hours between 7-9 p.m. And I spent a whole day for Lara's during my day off time. And finally Saturday and Sunday belong to my Hubby and Lara and the Halaqoh. And don't forget 5 times a day, the most important moment in our life, spend some time reading The Holy Qur'an and something related to it. Let's make life worthwhile.

Sunday, February 04, 2007

First Week of Year 1


Ketika mengambil mata kuliah Teaching Literacy and Multiliteracy, rasanya heran kok bisa yaa ada sistem belajar baca anak-anak secanggih yang aku baru aja temuin setelah my dear Lara spent week 1 di Ironside SS. Lagian keliatannya anak-anak tidak terbebani, malah yang sibuk adalah parents. Memang dari sejak aku kerja di project bidang pendidikan, si project orang bule ini selalu mempromosikan perant teacher, parents and community. Memang orang-orang dikdasmen waktu itu setuju tapi apa bener bisa dijalankan seperti di luar negeri, yang kali ini aku bener-bener merasakan kalo peran parents sangat signifikan dan jangan lupa tidak berarti guru mengajar asal-asalan. Seperti biasa di Indo, penerapan kolaborasi ini pasti gak merata, coba bayangkan buat anak SD yang di pedesaan atau daerah kumuh. Peran parents sangat besar untuk kemajuan pendidikan. Tapi dilain pihak guru (typically di Indo) juga merasa cuek karena ada kebijakan orang tua harus berperan aktif mendukung pendidikan sang anak. Dirasakan di sini, Mrs. Black guru year 1 my dear Lara ternyata kerjaannya sangat berat. Yang paling keliatan adalah ketika kutanya Lara siapa yang nempelin semua cover/judul buku, jawabannya adalah Mrs. Black. "She is always very busy mummy?" Week 1 parents dapet assignement book covering, ternyata sistem yang diciptakan untuk mempermudah si anak bagus banget sejalan seperti yang aku pernah pelajari di matakuliah tadi. Ada beberapa writing book dan scrap book yang menarik untuk record:



  1. Ada word book yang isi adalah buku tulis blank dikasi judul 'word book'. Buku ini untuk belajar baca dengan trick 'sight word' yang nantinya akan nyambung dengan buku lain mengenai 'popper words'. Popper words dan sight words ini hampir mirip yang tujuannya adalah supaya si anak gak usah mengeja tapi langsung, begitu ada tulisan dengan bentuk sperti 'RED' langsung responnya dibaca red. Sistem ini kalo aku gak lupa pake behaviourism. Di buku ini juga ada segudang hints dan assignment untuk parents mendukung si anak belajar popper words. Seperti menulisi semua benda-benda yang ada di rumah. Pantesan ketika kerumah Mbak Ani Salut, aku liat benda2 di rumahnya ditulisan ternyata ini adalah tugas dari guru year 1. Kalo di Indo sistem ini bandingannya apa yaaa? Buku tulis yang masih nyambung dengan learning words adalah "My Pictionary".

  2. Ada scrap book tentang I'm learning about ... the world around me, other culture, community helpers, my self, m school, families dsb. Setiap anak keliahatannya akan belajar mengenal lingkungannya. Kalo di Indo apa ini PPKN atau IPS yaaaa? Kalo di Indo kayaknya pelajara di kasih label tapi konsep yang diajarkan ke anak ke gitu ketangkap.

  3. Scrapbook yang ketiga adalah my writing journal, dengan begini pengenalan kata 'writing' bukan hal yang tabu, writing bukan berarti menulis tangan tapi berekspresi, menulis adalah cara berekspresi. selama ini ku perhatikan konsep Reading dan Writing di Indonesia sudah salah yaitu, Reading artinya membaca yang cuma decoding (mengeluarkan suara dengan memebaca simbol-saja) kadang tanpa mengerti artinya. Kadang kita baca Qur'an aja cuma membaca arabnya doang artinya belakangan, padahal yang dimaksud reading adalah memperoleh message dari apa yang kita baca bukan cuma decoding. Di Indo itu keliatannya pertanyaan yang diutamakan adalah kuantitas misalnya 'udah khatam Qur'an berapa kali ?' Padahal makna yang dibaca tidak sampai apalagi diterapkan. Writing juga demikian, yang salah memahami, anak disuuruh menulis halus biar tulisannya bagus padahal konsep writing itu sendiri adalah mengekspresikan lewat alat tulisan, terbukti dari scrap book yang diberi judul 'My writing Journal"-nya berisi tentang gambar si anak yang di bawahnya di tulisi tentang komen gambar, misalnya "I am Playing puzzle" dengan gambar diatasnya seorang anak perempuan dan gambar puzzle - meskipun spellingnya gak bener tapi pada tahap ini yang penting ekspresi si anak keluar. Mudah-mudahan di Indo ntar konsep literacy - Reading n Writing - udah diperbaiki.

  4. Satu lagi yang menarik adalah buku tulis yang disampul dengan judul Poems and rhymes. Di sini poems and rhymes itu begitu penting yang sangat kontradiktif dengan di negara kita, sastra sepertinya dianggap rendah dan yang dianggap paling hebat adalah bidang science. Bahkan sampai salahnya orang science itu begitu merasa sakti bisa masuk ke bidang apa aja. Apa lagi bidang bahasa, sebagian orang di tanah air bahkan menganggap rendah orang yang mengambil jurusan bahasa, sampai saudara ku sendiri ada yang bilang "buat apa masuk jurusan Bahasa, udah tinggal les aja." Nggak gitu dong, abis yang mau ngajar bahasa di tempat kursus mau anak teknik, meski ada kasus seperti itu tapi itu gak bisa, bagaimana seorang dari teknik menerapkan psycholinguistic and sociolinguistic-nya. Orang Indo yang udah di luar negeri pun masih meremehkan padahal untuk bisa lulus Aus Aid itu IELTS minimal 6,5 gimana tuch kalo nggak diajarin sama guru bahasa. Di Australia ini, Poems, rhytm and rhymes sudah diajarkan sejak awal-awal belajar bahkan usia dua tahun, contohnya nya ada buku berjudul "Harry MacLarry" yang isinya rhymes melulu. dan ada juga buat yang pre-schooler "Fox in a Sox"-nya Dr. Seuss. Orang-orang kita belum begitu aware dengan pentingnya detail bahasa termasuk apa itu discourse atau wacana. Padahal semua aspek berawal dari wacana. Ah ... untuk menerangkan ini harus panjang dan buka judul posting baru atau liat aja di wiki atau google apa itu analysing discourse. Wah jadi kemana-mana neeh ... intinya adalah, bahasa, sastra dan wacana adalah interconnected aspek of life yang kebanyakan dari kita cuma bisa meremehkannya.

Udah ahhh .... ini cuma tulisan my amazement tentang sistem pendidikan di sini dan kerja keras sang guru. Tapi aku jadi inget kerjaan di childcare ku yang belakangan ini sangat menyita waktu dan bikin exhausted. Ternyata kerja begituan juga sangat berat, terutama kejar setoran buat accreditation. Coral, group leader ku ngasih tahu semua prosedur gimana kalo kita harus menjaga accreditation. Setiap anak punya record sendiri dan di assess kemudian dilihat short term dan long term goalnya udah tercapai atau belum. Ketika kita lagi diskusi tentang hal ini, diskusi kita nyambung banget dan dia rada heran aku kenal istilah-istilah young children education tapi efeknya sekarang aku malah harus selalu menulis daily report sheet for parents, BT kan mana tulisannya Inggris lagi. Tapi it's good for me buat exercising, and I'm quite happy for that. Balik lagi ke sekolah Lara, ternyata yang aku rasakan juga sama kerja di childcare juga perlu tenaga dan otak kalo kita terpaksa disuruh nulis daily sheet.

Sunday, January 14, 2007

Grouchy Ghetto

Ngobrol dengan seorang teman, tentang racism di sini ... (eh jangan kaget dulu baca aja semuanya) ketika lihat breaking news ada riot di salah satu kota besar di sini. Temenku bilang sebenarnya racism menurut dia adalah sifat natural manusia biasa yang 'instinctive' cuma (aku tambahin) kalo disebutkan outloud terkesan naive. Statement ini menegaskan pendapatku sebelumnya ketika ngobrol pula dengan temen terdekat. Semakin kuatlah dugaanku kalau itu benar. Cuma kalau sudah nyangkut ke legal action yaa ... itu yang bisa berabe. Kita lanjutkan perbincangan dengan menyinggung diri sendiri contohnya, yang orang Jawa pada ngumpulnya ya sama Jawa juga dengan mengeluarkan jurus bahasanya yang membuat hubungan mereka lebih dekat, yang suku Sunda gak mau kalah, Bali pun dan suku-suku lainnya sama saja. Terlepas dari masalah kesukuan, kita semua yang orang Indonesia berada di luar negeri biasanya gak terlalu maksa ingin berada dengan sesama suku karena kita semua merasa saudara bahkan sampai-sampai saking merasa saudaranya urusan pribadi pun bisa jadi menjadi urusan bersama. Saking care-nya sama temen.
Karena memang sudah instinctive tadi, jadi kita jarang bisa immerse sepenuhnya dengan non-Indonesia, kemana-mana selalu bersama. Mungkin bisa kita check kalo di High Way ada mobil beriringan mulai dari 4 sampai 8 mobil coba di tanya, itu pasti orang Indonesia. Pernah ketangkap kamera ada notice board bilang "no tailgating" kurang lebih begitu bunyinya di notice board High Way. Kemana-mana selalu bersama itulah ciri dari kekeluargaan yang luar biasa mendalamnya, dan mungkin sebagian alasan lain adalah takut tersesat karena nanti takut gimana ini itu-nya. Ini kan di luar negeri gak sama kayak di Indo (singkatan dari Indonesia). Emang akan ada abang beca yang mau nunjukin jalan kalo kita tersesat? Padahal disini disediakan Refidex (peta jalan yang lebih dari cukup memadai)-kalo gak pake GPS- yang sangat bisa diandalkan, dibanding nanya orang yang lagi nangkring dan ngerokok dipinggir jalan kalo di Indo. Tapi, gimanapun kita memang menikmatinya dan kita gak bisa lepas dari itu.
Kebersamaan lain yang bisa dijadikan contoh adalah kampung melayu di Brisbane. Ada beberapa kompleks flat/unit yang isinya orang Indo semua. Pokoknya nggak kaya di luar negeri dech mungkin ntar kalo pulang pun kayanya aku malah jadi lebih pinter bahasa daerah. Kebiasaan berkumpul ini memang baik untuk menjaga ikatan silaturahim selama ikatan itu membuat kita menjadi lebih baik dan menambah relasi ketika pulang nanti. Aku jadi ingat istilah Ghetto yang maknanya kurang lebih seperti itu (sebagian daerah yang dihuni oleh kaum minoritas yang memiliki budaya yang serupa- maaf ... tanpa perubahan makna negatif yaa). Aku pun pernah mengalami suka dukanya berada di kampung melayu. Suka-nya kita sering bisa minta tolong dan ditolong teman-temen seperjuangan tapi malu sekali kalau kita yang ditolong terus tanpa kita memberi timbal balik, juga sering berkirim makanan dan pinjem-pinjeman bumbu masak. Duka-nya ternyata ada juga, kita jadi susah punya privacy, urusan pribadi jadi urusan bersama, pikiran selalu dihantui rasa cemas karena takut menyinggung orang lain jadi cara berpikir kita jadi kurang sehat karena selalu takut untuk bertindak, mau begini tak enak, mau begitu takut salah. Juga biasanya gossip beredar lebih cepat dari internet broadband, meski berusaha menghindar gak bisa nggak, pasti kedengeran. Dengan begini kapan kita mandiri, kapan kita bisa memiliki self-reliance dan independence, lagian seperti apa pengalaman kita diluar negeri kalau nggak jauh beda dengan kehidupan di Indo, apa kemajuan kita, bukannya kita datang ke luar negeri berharap ingin menambah pengalaman yang lebih baik, yang berbeda dengan di negeri sendiri. Tapi ada juga yang menganggap bagian 'duka' itu cuma mitos dengan kata lain tidak pernah ada sisi negatif-nya (asalkan tutup kuping dan tebal muka kali yaaa). Biasanya kelompok seperti ini menganggap individualis kepada kelompok orang yang ingin memiliki privacy sendiri. Labelling ini membuat pertanyaan kenapa kok para white people itu disebut individualis juga tapi semuanya berjalan lancar sesuai aturan yang berlaku? tidak ada kasak kusuk dan saling berprasangaka?
Perihal penyebaran info/berita/rumor yang super cepat dikalangan masyarakat aku juga gak ngerti, mungkin karena komuniti-nya yang itu-itu aja dan termasuk minoritas jadi bila ada seseorang yang tahu satu info maka semuanya akan tahu. Aku pernah coba tanya sama orang Iran dan Korea, apakah hal ini terjadi dikalangan masyarakat mereka di Brisbane ini. Jawabannya sama, berita cepat sekali menular baik kabar baik maupun kabar kurang sedap. Maaf nich aku jadi pengen ceritain kasus temen yang curhat, kelihatannya dia agak gerah dengan urusan pribadinya yang di-most-wanted-in sama orang lain. Belakanngan ini lagi musim mahasiswa Phd dibawah sponsor beasiswa mengajuakn extension (pepanjangan) kuliah. Katakan temanku, si X. Setiap ketemu orang pasti ditanya "sampai kapan exten-nya?" Asalnya sich cuek aja lagian dia juga gak tahu sampai kapan. Selanjutnya setiap orang kok jadi banyak yang tanya dengan pertanyaan yang sama? jawabannya pun masih belum tahu karena belum ada pengumuman. Lama kelamaan ada sesuatu yang aneh juga, ada juga orang yang luar biasa penasarannya sampai-sampai jadi memfitnah orang lain gara-gara ingin tahu jawabannya kapan. Akhirnya si X penasaran juga, ada apa dengan orang-orang penasaran ini? Kok jadi tidak sehat. Jadi si X ingin mencoba sampai mana kepenasaranan orang-orang disekitar kalo pengumuman exten ini dijadikan rahasia. Hari berganti hari ada rumor katanya si X udah dapet exten? Setiap telepon berdering dia ditanya atau dikasi selamat "selamat yaaa udah dapet exten-nya." Lho ... siapa nich yang bikin gossip? padahal si X gak pernah kasih tahu siapa-siapa katannya. Ada juga yang saking penasarannya mengecek dengan bilang bahwa dia memimpikan si X dapat extent sampai tanggal yang pasti. Apa sebenarnya yang terjadi? Entah kenapa? Apakah orang-orang yang berada di ghetto area memang suka ingin tahu urusan orang, tapi ... mudah-mudahan niatnya baik. Tapi apa yang membuat mereka penasaran? apakah ini karakter dari 'The Grouchy Ghetto".
Sebagai penutup, seorang Indonesia tidak bisa lepas dari teman sebangsanya sendiri, terbukti untuk orang Indonesia yang sudah menetap di Australia pun masih ingin bergabung dengan masyarakat Indonesia yang cuma bersekolah disini. Jadi jangan khawatir bertempat tinggal jauh dari orang-orang Indonesia(dengan itikad baik) bila kita berada di luar negeri, karena bagaimanapun kita pasti bisa menemukan mereka karena kita adalah satu.

Thursday, January 04, 2007

Catatan: End of Year Holiday



Akh ... baru sempet neh ... corat-coret lagi. Tidak komit janji untuk gak buka blog. Penasaran kalo gak nulis. Sebulan genap dengan no-shopping day tanggal 26 December adalah the shopping day, gimanaaa doong! Sebulan sebelumnya 26 November adalah hari gak belanja sedunia, pokoknya selama 24 jam tahan buat nyoping.

Gara-gara tradisi boxing day 26 Dec, jadi kebawa-bawa ikutan heboh shopping menyoping. Entah dari mana tradisi itu diciptakan, pernah lah baca di milist sejarah boxing day cuma lupa. Seperti tahun-tahun sebelumnya minggu terakhir tutup tahun diakhiri dengan libur bersama dari 24 December 2006 sampai 2 January 2007. Cihuyyy ... keliatannya asik bisa liburan kerja malam dan bisa nyantei. Ternyata, usut punya usut malah liburan padat bgt. Masih mending kalo kegiatan gak spending money, tapi berhubung sich ... boxing day. Kebiasan boxing day dimulai sejak datang ke Brisbane katanya semua harga jatoh di mall -mall atau branded stores. Mana bisa tahan, sugesti begitu kuat apalagi yang di kejar factory out let soalnya harga di mall meski udah turun masih juga ratusan dolar, no thak you. Tujuan alternative adalah FO yang dikejar surf-branded apparel dan kawan-kawannya. Mulai tanggal 26 tujuan menyoping adalah The Harbour Town yang terkenal dengan barang-barang merek tapi murah. Udah dech idealisme runtuh seketika untuk tidak konsumerisme. Memang untuk mempertahankan keistikomahan perlu jihad yang kuat. Ada barang murah, pengennya beli banyak sekalian buat oleh-oleh (kalo sayang dikasiin ... buat sendiri) apalagi inget Yuli yang udah balik ke Bandung beramanat kalo barang-barang disini lebih bagus di banding di Indo. Jadi yaaa ... beli dobel sebagian ... gaji forthnightly lumayan kecungkil.

Hari berikutnya 27/12/06, selain shopping bisanya juga film-film baru bermunculan Happy Feet n The Night in the Museum. Jadi masih dalam rangkan end of year holiday tak apa lah menyenangkan hati sang anak untuk ber-happy feet ria. Juga penasaran ngecek ke City ada yang murah nggak yaaa ...? Shopping lagi. Terus si ayah nanya besok kemana, ke DFO gitu? Aku spontan jawab, baru aja dari Harbour Town, gilee ... nggak ahh wasting ....

Besoknya, bengong sana sini, pagi-pagi beresin baju yang udah setahun gak disetrika. Telpon sana-sini siapa yang mau jalan, kemana? dari pada bengong dirumah liburan gini. Akhirnya setelah telpon sana sini ada yang bisa ada yang gak ikut ke DFO, ya udah diputuskan ke DFO padahal udah sepakat gak pergi kemana-mana dan ada alasen pulangnya janji ma Lara buat main di rumah Afrah n Zahra. Pas aku telfon Zahra's mum ntar kita mau mampir sepulang DFO, eeeh ... ternyata rencana hari itu mereka mau kesana juga padahal tadi pas di telpon gak kemana-mana ... Di DFO ngapain lagi kalo gak nyoping, yang asalnya cuma mau spend dikit begitu liat Puma diskon 40 % mana tahaaan bow ... Eh ... di River n Rip Curl juga Gio, euleuh ... pusing dech. Eeh nulis kayak ginian meni teu elit and so un me gitu ...

Ya udah akhirnya si anak-anak janjian mau maen besok kerumah. Udah dipastikan gak kemana-mana soalnya ayah mau jum'atan ke Dara. Jadi dirumah. Nambah penasaran juga telpon si Nur ngapain hari gini. Tiba-tiba dia nyuruh datang katanya ada piknik ddakan di Park ma Mbak Tika n Mbak Cheta ya udah lagian anak-anak juga happy diajak maen. Semuanya serba kebetulan, temen yang lain datang juga secara gak sengaja. Piknik jadi seru dengan datangnya vokalis Joni (iskandar) heee heee ... padahal besok Idul Adha ...

Sabtunya Idul Adha kita janjian mau Sholat Ied di Lutwyche dengan halaqoh member n friends. Kirain Mbak Helda belum dapet mobil hari itu, ternyata rencana mendadak lagi dari pada sabtu depn ke Dream World mending kita rayakan Idul Adha di sono ... aduh punten .... Jadi weh ... money lagiiii.

Ternyata hari sabtu bukan the end of the holiday, masih ada acara silaturahim dalam rangka Iedul Adha ke Holland Park n Eight Miles Plain disambung hunting foto Fireworks di South Bank yang sebenarnya puncak acara dari semua activity holiday. Alhamdulillah, hunting foto berhasil berkat bimbingan sang instruktur fotography dari workshop seminggu lalu. Untung posisi berada didekat si beliau jadi meter, aperture, speed dan WB udah di set ama beliau. Wuiih ... baru kali ini ngerasin pengalaman fotography yang asik bgt. Pokoknya topbgt dech. Kata Pak Tino Syafiq Sidin sich 'Bagus' katanya, bener gak yaa, pede aja dech.

fireworks southbank - my shot E300 Olympus


Masih ada lagi acara hari esok di Morningside rumah kediaman Sri Yoga buat acara silaturahim dan halaqoh dan plus makan-makan yang buanyaknya gile bener, sampe-sampe pulang teler gak inget bumi alam saking kenyangnya. Itulah akhir perjalanan liburan akhir tahun, tidak happy ending karena malamnya harus back to work, tapi selama liburannya happy terus walopun dompet terkuras.

Monday, December 18, 2006

Scapegoating

Wal ashr
Innalinsaana lafihusrin
Illalladzina aamanuu wa a'milushoolihaati watawa shoubilhaqqi watawa shoubishobr

There are several things I remember about this surah related to some events I've been trhough this week and the the coming weekend. The first was that I got a new lesson when Sist Helda when she found a bit hard to pronounce the first verse since in the tahsin criteria saying there were two types of pronouncing 'ra' the tafhim and tarkiq (not sure), the thin followed by kasrah and the thick one followed by dhomah - just a note for reminder.

The second thing is I've decided not to waste my time staring on the laptop for blogging. In the beginning, it was fun and seemed to be a liberating agenda having such a media for writing 'grudges' about injustice especially the stupidity and some losers. But then, writing grudges might harm the stability of the peace of the mind and heart. So I quit. Nonetheless, on the second thought triggered by some friend asking me to show how to do blogging, I begin to write again. It's gonna be good sharing what I've got with others anyway. Afterall sharing what we know with the right intention is not wasting time at all as this weekend is gonna be the busy one for a photography workshop, blogging training for the halaqoh sisters and the rumors also said about the farewell party in the park.

Talking about sharing just remind me of the word antonimy, individualist that was recently concerned by friends. It was like a quite contrary between the two. The concerened is that people now are getting more individulist, is that true? Let me check ... Based on the dict, it says Individualism is a term used to describe a moral, political, or social outlook, that stresses human independence and the importance of individual self-reliance and liberty. Individualists promote the unrestricted exercise of individual goals and desires. They oppose any external interference with an individual's choices.

The meaning tends to show how an individualist focus on self-reliance, independent and liberty. This word turned pejoratively since people mixed up with egotism (egoism) which leads to antisocial behaviour and narcissism. Individualist is not necessarily an egotist. In our context, among the indonesian culture, those words are easly mixed up and abused.

Indonesians are well known by its typical 'collectivsm' as they say the 'gotong royong' or sharing which means more or less doing things together or emphasising to community and societal goals over individual goals. I believe the original intention was wonderful to create the philosophy of 'the more the merrier'. But then, the use of this term has been manipulated and abused. People now tend to abused the term over their egotism. I bet everybody involves in the 'gotong royong' - especially the actor of the 'gotong royong' - must have an individual motives. For example corruption, gossiping (pretend to care for others but merely ghibah). The actor manipulates the philosophy for the sake of his self-centeredness. When the actor fails to reach his objective he begin scapegoating. Thus, in a certain case, it is like a kind of scapegoating because self-reliance has never been developed. In Psychoanalitic theory, scapegoating means unwanted thoughts and feelings that can be unconsciously projected onto another who becomes a scapegoat for one's own problems. This concept can be extended to projection by groups. In this case the chosen individual, or group, becomes the scapegoat for the problems.

Now I am in between in the two cultures, Eastern and Western cultures that so-called individualist. This phenomenon allows me to think why such individualist culture can be among the best instead of the gotong royong culture. What's the matter? The eastern concept seems to be better but WHY? There must be a mistaken action upon the philosophy. I am thinking again, the possiblity is that those who are individualist will only concern about the self without interfering others. Given that way of thinking, the society creates the persistent rule to organise each individual for their fulfilment that result a perfect order. Such as being on time that is extremely contrary to the eastern culture. Above all, this doesn't mean that western culture is the best but in this case this might be a thing for reflection. Reflecting back to the surah above. it was wise and precious to think about the importance of time in our life and the important of giving advice to believe in the truth and patience.

Tuesday, November 28, 2006

Borat dan Kita


Seperti biasa kalo mau nonton di Indro selalu harus nunggu selasa biar dapet half price kecuali di SouthBank. Memanfaatkan waktu pas murah jadi inget Borat kebetulan juga yang tadi disimak baik-baik juga adalah pelem Borat "Hallo, I am a Borat" itu lah kata grammatically incorrect yang sering keluar dari mulut berkumisnya dengan selalu ingin mencium pipi ketika berkenalan terutama sama kaum Adam - tentu saja setiap cowok pasti menolak utuk di cium. Jadi inget ketika pas dateng ke Brisbane kalo ketemu sama para akhwat terutama di pengajian dan kurang akrab pasti cium pipi kanan kiri sebanyak tiga kali cuma sewaktu di Indo cium-ciumannya cuma 2 kali kanan terus kiri, padahal personally aku paling gak comfy kalo udah bersentuhan fisik sama orang, laki dan perempuan. Aneh juga kok cium pipi tiga kali banyak amat. Terus terang sampai saat ini belum tahu hadistnya apa, cuma ngikut doang meski gak setuju. Ternyata setiap orang Indo yang baru datang ke Brisbane akan bertanya kenapa disini 'ciumannya' tiga kali dan hampir semua yang jawab gak tahu.

Setelah menyimak filem tadi dari sudut pandang 'kita' ternyata aku kumpulin kejadian-kejadian konyol mirip si Borat yang nyambung dengan Cross Cultural Understanding, terutama western culture dengan non-western

Dari segi performance, sebenarnya si Borat hampir mirip dengan Mr. Bean cuma yang ini keluar suara sedang si Bean nggak. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Inggris parah seperti kebanyakan orang Indo termasuk Putri Indonesianya, Nadine. Dari segi bahasa, Borat menggunakan survival language padahal dia adalah seorang journalist yang harus interview kesana kemari termasuk interview live di TV dan dengan para feminist yang tidak pernah ada dinegaranya. Dengan bahasa yang pas-pasan dia maksain diri untuk membuat film dokumenter. Satu kejadian kelucuan bahasa yang mirip terjadi pada teman sendiri.

Suatu ketika di tempat kerjaan, ada orang tua anak yang menjenguk bayinya. Si anak dibawa temen ku kedalam sebentar si ibunya menunggu di luar, sambil masuk kedalam temenku bilang "coming soon" [kaming suuun], maksudnya dia mau bilang 'I'll be right back'. Aku gak kuat nahan ketawa tapi takut menyinggung - What de? Kejadian ini aku ceritai ama suamiku ketawa spontan gak ketahan sampai-sampai setiap suamiku mau bilang ntar balik lagi dia selalu bilang "coming soon" sambil ketawa. Si borat lebih parah, ketika dia sedang mempelajari dinner dan table manner dengan high society, dia mencoba membuka percakapan dengan pertayaan berulang ke setiap orang yang dinner "What do you do?" Salah satu yang hadir menjawab retired tapi yang terdengar si Borat malah retarded jadi ....

Satu lagi kejadian gagap budaya dan bahasa terjadi sama orang Indo tepatnya Dhani Ahmad, celebrity, pemimpin Band Dewa yang paling banyka fans-nya di Indo. Suatu pagi yang udah ku tunggu-tunggu karena udah dapet imel dari Shanon kalo Dhani Dewa akan di interview oleh Channel Seven, stasiun TV di Aus. Pas Dhani udah on air, dia di tanya host Sun Rise tentang Laskar Cinta yang katanya liriknya menguggah para westerners karena isinya tentang kritikan buat para Jihadist atau islam radikal. Pasti banyak sekali info yang diharapkan oleh Mel dan David Koch dari Dhani sebagai musisi yang mencoba meredam jihad dan violence. Tapi begitu dilempar pertanyaan ke dua Dhani cuma ngomong satu dua kata dan jeda lebih dari satu menit - gak tahu bingung Inggrisnya apa atau gak punya ide untuk mengungkapkan yang dia maksud, Kebayang kan kalo kita ngomong nyroscos selama satu menit juga lama banget. Diam seribu bahasa tak terungkapkan, gak seperti ketika dia mengexpresikan lirik-lirik lagunya. Yaaah .... Dhani parah jadi inget Borat Ni .... untung aja diamankan ama Bu Rochi (kalo gak salah) dari UNSW dengan meneruskan menjawab pertanyaan Dhani.

Kalo dirinci satu per satu banyak sekali kejadian yang mirip dengan yang dialami si Borat di filemnya. Terutama sebagai first timer arriving overseas in western civilisation. Sebenarnya, gak cuma non-westerner aja yang gagu, tapi westerner juga gagu kalo masuk ke kultur kita. Cuma bedanya adalah mereka mengangagap kultur mereka lah yang dianggap lebih tinggi dan beradab dan juga banyak orang-orang yang sudah terwesternised kemakan sama budaya mereka yang dilihatnya lebih civilised. Padahal belum tentu kan?

Satu lagi eh dua lagi, yang membuat geli dan penasaran kalo gak diceritain, ketika si Borat di kereta entah subway, tiba tiba ayamnya (ayam hidup) jatuh keluar dari kopornya. Nah kejadian ini mirip dengan kereta ekonomi jurusan Bandung-Surabaya katanya, sorry kalo salah ya. At least pertama aku ikut mudik juga ada yang bikin schock kalo orang-orang pada bergelimpangan tidur di isle kereta. Yang aku bisa ambil kesimpulan adalah kebiasaan buruk seperti itu sudah tidak bisa dianggap lagi kejadian aneh kerena pembiasaan yang paling suka dikatakan orang Indo "yah ... itu mah udah biasa, gitu aja kok repot" Padahal gak gitu. Aku pernah berontak untuk balik jawab "Makanya jangan dibiasain, kok kebiasaan buruk dipelihara" nah inilah mungkin yang membuat kultur kita dianggap rendah dan tidak beradab dengan contoh sebuah ketidakteraturan yang sempurna.

Nah ini yang satu lagi tadi. Kejadian geli yang membuat ku agak-agak harus nebelin muka tapi gimana lagi yaa ... Tapi gak tega nyeritain detailnya, intinya adalah diajak temen BYO food in the buffet resto. Kebayang gak ....

Saturday, November 18, 2006

Buy Nothing Day, 26/11

Liat kiriman kunci tentang celebration Buy Nothing Day menarik juga. This is such a good idea untuk mengekan nafsu belanja yang sudah mendarah daging. Hari tanpa belanja ini dirayakan ntar 26 November artinya selama 24 jam hari itu dilarang melakukan transakasi apapun. Dalam rangka Buy Nothing Day ini kunci meng-encourage orang buat sharing pengalaman belanja sperti dikisahkan dalam www.kisahbelanja.blogspot.com. Buy nothing day is a good way of giving such awareness about the culture of consumerism.

Kalo dibandingkan pengalaman belanja di Indo dengan di Aussy sangat menarik. Sebuah gaya belanja yang unik. Bisa kita kategorikan weekly shopping buat keperluan: makanan, luch box dan toilteries dan exessive shopping; baju yang lagi in, shopping karena discount, ada barang yang diincer dan rengekan sang anak dan lagi-lagi ada factory outlet baru.


Untuk weekly shopping food supply dan toiletries.
Indonesia: Kita sebenarnya bisa beli-beli kapan aja, soalnya warung ada dimana-mana. Kadang kalo kita kesupermarket yang dibeli gak cuma food supply atau toiletries tapi macem-macem bisa barang elektronik atau yang gak penting-penting. Kelihatannya ada kebiasaan di Indo untuk kalangan menengah kebawah, belanja di Mall adalah untuk gaya aja dan menganggap bekanja di Mall dan supermarket untuk belanja sambil window shopping. Belanja keperluan rumah tangga yang sesungguhnya adalah di pasar traditional yang cenderung lebih murah tapi gak gaya jadi gak dianggap seperti shopping.

Kalo disini, berhubung jarang ada warung ya terpaksa belanja food supply and toiletries harus weekly atau forthnightly - kalo nggak bisa berabe, shopping tiap hari ke supermarket? - nggak dech. Apalagi Asian food yang gak setiap supermarket menyediakannya. Kalo ada salah satu jenis Asian food yang kelewat ketika shopping ya kepaksa ditahan aja walopun kebelet. Dan yang pasti beli halal meat yang harus diperhatikan soalnya jarak dari tempat tinggal lumayan juga, jarang bahkan gak ada supermarket yang menyediakan halal meat. Bedanya dengan di Indo adalah semuanya bergaya swalayan meski ada toko di 'low income suburb' yang mirip dengan pasar traditional (kotornya).

Sunday, November 12, 2006

A View Point on The Prohet's PBUH Visualisation

This is the thing I could refer to the bedlam I've been following for days. This opinion is considered to be in the hard line but telling the truth that I myself can't hold this truth. Wallahu'alam.


At the moment my answer to your query will be from my memory only and what I can recollect of my thoughts in a brief moment now. This is ofcourse because I have three exams in the next three days and one more next friday so I'm caught up with those and as is my mind!!

The issue would be better phrased as 'why we are not allowed to make any type of images of the Prophet (s)'

As for visualising him in our mind, we are allowed to do it as much as we can in a limited way in our imaginations by the various attributes and descriptions of him in hadith such as his smile, his teeth, his height, his physique, his hair colour, his beard etc etc.

As for portraying the Prophet in a picture, whether it is his real image or our guess from his few attributes we know then this is not allowed by consensus of Muslim scholars over the last fourteen centuries.

This is for various reasons. Some of these reasons that I can recollect in a rush now are as follows.

1. The Prophet (s) forbade us from drawing or making any sort of images of any living being - animal or human even as we see it. He said, "May Allah curse the image makers" This is an authentic hadith.

2. Sahabah understood from this banning that no animals nor human should be made an image of neither a statue nor a drawing etc. So Ibn Abbas after the death of the Prophet (s) encountered a person drawing images of animals as a habitual thing. Ibn Abbas forbade him and directed him instead to draw images of trees and sceneries if he really wanted to draw. This shows that even after the death of the Prophet this is how the companions understood and implemented the prohibition of pictures.

3. Therefore no 'photo' or portrait of the Prophet (s) was preserved neither by his companions in his lifetime nor any one after him. At that time, the Christians used to have statues or images of their important religious personlities such as Jesus as did other religious communities. The companions would have loved to do so too of the most important personality to them, especially to remember him after his death or to show others of later generations how great he looked as a Messenger of Allah. But they did not do it as it was clearly forbidden in Islam and well known.

4. Since no portrait of the Prophet exists, any image of him now would be a lie against the Prophet (s). We may try to draw as accurate as we can from his description in the hadith, but they are few and despite that no one can capture his smile or his mood etc in any drawing now as it will only be a guess work and therefore such a thing would be a lie about the Prophet and misleading people - Muslims and nonMuslims.

5. Instead if someone said, I'm merely drawing a cartoon not claiming it to be real but only to make a political or moral or any other point. Although there is no claim by such a person to real image of the Prophet (s), but again such an image leaves an impression of the character etc of the Prophet in the minds of the viewers. This impression is a gross misrepresentation and a big lie. A well intentioned person would try to do justice and a nice impression whereas a cartoonist related to terrorism is far far away from his real picture.

6. Also, given that the Prophet forbade a real true image, then a false incorrect image is further from permissibility due to falisfication of the true image which has far reaching consequences on a person's mind and religon etc.

7. Besides all this it is an insult to draw a cartoon of a respected person. In Kafir society here, they mock their own presidents etc but in Islam we are ordered to respect and honour the elders and any other muslim, therefore cartoons themselves are not allowed in Islam if they are of a real person - whether the Prophet or anyone else. This is completely against Islamic character.

8. Another reason the images were forbidden in Islam is due to a hadith (the words of it are long and I do not remember right now). In that hadith, it is mentioned that the way shirk first entered in human thought and practice was when a righteous person died, others took his picture/image and kept it. They would remind themselves of the person's image to rejuvinate their iman and strengthen their drive to piety be reminding themselves of that pious man via his picture. They did so in next generation but as time passed they started to glorify the iman of that pious man, this with time worsened to excessive admiration to the point of deification - i.e. shirk with Allah. This is according to hadith and it occured. This hadith was mentioned to teach us a lesson of not taking images of any rightoues persons, especially the Prophet, due to the same fear. Christians fell again into the same trap. Infact their picture is not true image of Jesus nor of Mary and many know it (only from descriptions of Jesus and guess work) but they take it to remind of them and over time it led to shirk and standing before it etc. Imagine an image of the Prophet Muhammed to weak Muslims seeking strength.

9. Therefore, Muslims kept no images of no Prophets from before. It would have been easy for us to keep an image of Jesus as a Prophet but we did not over the centuries. We also never kept images of any famous personalities nor anyone else until this time when we lost ourself in an inferiority complex justifying and doing most of what some kafirs do who we regard as our superiors in arts, science and technolgy. Our arts are different to theirs and its good for us to realise it.

This is some of what I could think of for now brother, I hope that helps.

Wassalamualaikum
A

Thursday, November 09, 2006

Ordinariness - Semua orang kok mau spesial?

Seperti biasa, sambil beristirahat baca koran. Koran yang d' most wanted adalah Courier Mail soalnya isinya sangat lokal 'n easy to read. Untuk membaca ini usahanya lumayan juga harus berkunjung ke gedung sebelah kalo mau kenyang bacanya dan berlangganan ke si Kai n Nur supaya korannya jangan dibuang. Setiap baca Tuesday View, Wednesday View dan view-view lainnya di rubrik Perspectives, hampir tidak pernah tidak menarik. Semua perspective yang dipublish selalu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan selalu kebetulan nyambung dengan event-event sepele yang terjadi antara teman dan community.

Wednesday View kali ini berjudul "Not so special after all", ditulis oleh Karen Brooks. Si karen ini menulis tentang perubahan makna ordinary dalam kamus bahasa Inggris. Karen bilang, dulu kata ordinary ini mempunyali nilainya arti yang positif yaitu biasa, tidak membuat ulah dan oke-oke aja. Tapi sekarang terjadi pejorativism dalam kata ini yang dia asumsikan artinya sebagai "loser" atau pecundang atau juga "failure". Karena mungkin semua orang pada ingin special sebagai kebalikan dari oradinary. Ide berkembang di masyrakat semua yang spesial itu hebat dan positive sehingga membalikan ordinary jadi negatif. Rasanya pergeseran makna ini terjadi pula di lingkungan pemakai bahasa Indonesia. Ya .... seperti dimaklumi lah, namanya juga global village.

Baik di Indo maupun di luar negri, semua sama saja. Setiap orang berlomba-lomba meski tak mau terlalu kentara untuk menjadi paling spesial diantara sesamanya. Hal yang dicontohkan Brooks adalah para bloggers yang mengekspos kehidupan pribadinya - Wah ... si Brooks ini nyindir juga. Menurut dia para bloggers dan photo-oploaders mengumumkan kepada dunia dengan bodohnya bilang "look at moi, I'm special" - "Neeh liat gue neeeh, gue special khan ..." dalam hati bergumam, everybody likes moi. Padahal kalo kita gak pernah kasi komen atau gogorowokan di shout out mana ada yang mau mampir ke blog kita kalo gak salah pencet. Ternyata menurut eksperimen, kalo kita gak ninggalin jejak di blog orang mana mau n tahu si empunya akan kasih kunjungan balik. Sialan juga nih kolumnist, tapi emang bener banget, kenapa kita pengen selalu paling special. Padahal kalo semua spesial yang spesial sungguhannya siapa dong? Seperti ada tulisan di fridge magnet yang berbunyi "Everybody's unique like anybodyelse". Yang kerasa sendiri, menulis personal dramas and predilections are so UNME. Rasanya wierd banget kalo aku udah nulis begitu walopun cari excuse untuk record masa depan, dan kemungkinan lainnya bisa jadi penulisan life journal adalah refleksi dari inferiority complex. Contoh ini gak hanya berlaku di dunianya si penulis tapi jelas di dunia kita pun sangat sering terjadi.

Contoh tadi contoh kita di dunia maya, contoh lain yang live benar-benat terjadi adalah si A yang selalu ingin tampil lebih pintar, ingin lebih banyak tahu dari orang-orang dan ingin paling banyak informasi. Kelihatannya, bila ada orang lain yang lebih tahu dari si A, dia akan bertanya "emang dari mana tahu info itu?"dan mengecek sakan tak percaya. Dari hari ke hari diperhatikan contoh kasus kita ini malah tambah konyol dengan tujuan semula, menurut dia, menjadi spesial adalah mengetahui informasi terbanyak diantara teman-temen sekitar. Adalah contoh kasus lainnya sebut saja si B. Menurut dia, sepertinya menjadi spesial adalah dengan menunjukkan pendapat paling beda sekalipun bertentangan dengan aturan agama. Mungkin si B ini ingin dianggap unique dan berbeda dengan orang-orang biasa. Pendapat-pendapatnya selalu berkecenderungan untuk cari sensasi, dia suka dikerubutin konco-konco [menggalang massa]yang bisa dijadikan abdinya dengan dalih agama. Si B ini akan sangat merasa spesial bila dia berada ditengah-tengah massa-nya. Apalagi bila sebagian konco kongkow-kongkow sudah seperti menyembah sang B walaupun sang B paling suka bullying konconya. Ironinya adalah untuk menjadikan dirinya spesial adalah dengan mengorbankan orang lain, masih mending kalo tidak.

Kesimpulannya adalah jika setiap individu meresa berhak untuk jadi spesial maka tidak ada kata "we" yang jamak itu karena tiap orang adalah "me". Dan bahkan kata si penulis kalo bisa Me-nya itu disebutkan berulang-ulang dengan suara seriosa yang tingggi. "me, me, me, me, me, ...... terjadilah keegoisan yang tidak pernah menjadi kebaikan.

Thursday, October 26, 2006

The Last Eid in Brisbane

... kenangan manis di Brisbane yang gak mungkin terlupakan.

Ied Mubarak to every moslem I know, buat semua temans yang telah mengisi Ramadhan dan Eid dengan keikhlasan. Taqoballuhu Minna Waminkum, Shiyamana Washiyamakum.





Terutama buat anak-anak kita yang mungkin akan lupa dan tidak merasa menikmati indahnya Eid seperti kita di waktu kecil. Environment yang sangat sekuler membuat anak-anak kita lupa akan indahnya berlebaran, mereka gak tahu apa pentingnya Eid dan menganggapnya bukan something special. Sangat disayangkan, hal ini membuat para orang tua ingin memberi acara yang spesial buat anak-anaknya di Hari Lebaran.

Lahirlah ide dari sekitar kawasan Taringa untuk membuat acara yang mengingatkan pada anak-anak tentang indahnya berlebaran. Idenya berawal akan diadakan di Perrin Park dengan tanggal yang gak begitu pasti berhubung adanya acara halal bihalal IISB. Acara disusun Bu Siti, salah satu intinya adalah memberi hadiah buat anak-anak dari orang tua masing-masing. Hal ini ditujukan untuk menyaingi Chrismast yang sangat meriah dan menggoda anak-anak kita untuk melupakan nilai-nilai keislaman. Sementara tanggal halal bihalal bentrok dengan acara semula jadi sebaiknya acara diadakan di rumah sekalian dengan syukuran milad Lara yang ke-lima. Berhubung tradisi tiup lilin sudah melekat dengan anak-anak, terpaksa ritual itu gak bisa nggak harus dijalankan, meskin ingat kata kakek kalo ulang tahun gak usah tiup lilin kaya "walanda" katanya.

Akhirnya ide berlebaran dengan milad menjadi paduan yang seru, yang penting anak-anak happy dan merasa berlebaran walopun mix dengan berulang tahun. Teman-teman yang datang adalah kerabat-kerabat baik termasuk keluarga Taringa dan temans halaqoh.

Friday, October 20, 2006

To good to be missed

This article is quoted from the mail-list. It's too good to be deleted, I saved it here for the time to ponder.

Photobucket - Video and Image Hosting

BERTAFAKURLAH. ... (Merenunglah. .)Sumber "Mencari Mutiara di Dasar Hati" catatan Perenungan Ruhani (Moh. Nursani), Tarbawi Press.

Saudaraku ... Satu di antara pekerjaan syaitan adalah menimbulkan keraguan dan khayalan kosong. Keraguan dan khayalan umumnya akan mengarahkan pada kekhawatiran dan putus asa dari rahmat Allah. Gelisah yg tak jelas apa yg menjadi inti kegelisahan, padahal segala sesuatu yg dikhawatirkan itu belum tentu terjadi.

Gundah yg tak ada asalnya, padahal peristiwa yg melahirkan kegundahan itu belum dialami. Sungguh kita kerap menjadi objek syaitan. Syaitanlah yg berjanji, "Dan aku (syaitan) benar-benar akan menyesatkan mereka dan akan membangkitkan angan-angan kosong pd mereka"(QS. An-Nisa:119) .

Saudaraku ... Jauhilah pikiran yg tdk bermanfaat. Buanglah kekhawatiran yg tdk pd tempatnya. Campakkan khayalan kosong yg tak jelas ujung pangkalnya itu. Karena semuanya takkan menambah apa-apa kecuali membuat kita bisa makin terpuruk pd jerat frustasi dan ketakutan yg tak mendasar. Kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan yg tak ada ujung pangkalnya. Merasa sunyi dalam keramaian. Sedih di tengah kegembiraan. Atau bahkan, mati di tengah sejuta harapan utk hidup. Jika kita pernah mengalami suasana hati seperti itu, maka Allah SWT memberikan jawabannya. "Sesungguhnya orang-orang yg bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat pada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan nya" (QS. Al-A`raf:201- 202) itulah jawaban dari Allah SWT.

Saudaraku yg dikasihi Allah, Menurut Imam al-Ghazali, awal dari segala perbuatan adalah kegiatan berfikir. Karenanya, orang yg selalu berfikir panjang dan mendalam (bertafakur) akan lebih mudah melaksanakan segala ibadah ketaatan yg lainnya. "Jika sudah sampai di hati, maka keadaan hati akan berubah. Jika hati sudah berubah, maka perilaku anggota badan akan berubah. Jika pebuatan mengikuti keadaan, maka keadaan mengikuti ilmu, dan ilmu mengikuti pikiran. Oleh karena itu pikiran adalah awal kunci segala kebaikan." (Abu Hamid al-Ghazaly, Ihya `Ulumuddin,IV/ 389).

Bertafakur bukan berkhayal dan berangan-angan kosong. Bukan memikirkan soal keduniaan yg tak pernah habis. Bukan menguras pikiran utk membahas problematika hidup yg hanya ada di dunia. Tapi mengarahkan kita utk memikirkan fenomena alam dan kaitannya dg keimanan. Itulah tafakur yg akan mempunyai pengaruh pada kebersihan hati. Tafakur adalah berfikir menerawang jauh dan merobos alam dunia ke dalam alam akhirat, dari alam ciptaan menuju kepada Sang Pencipta. Berfikir kadang hanya terbatas pada upaya memecahkan masalah-masalah kehidupan dunia, sedang tafakur dapat menerobos sempitnya dunia ini menuju alam akhirat yg luas, keluar dari belenggu materi menuju alam spiritual yg tiada batas.Karena itu, jika kita memiliki hati yg selalu merenung atau bertafakur ttg ketinggian dan keagungan Allah SWT serta memikirkan kehidupan akhirat, keadaan itu akan memberi kemampuan kita membongkar dgn mudah niat-niat jahat yg terlintas dlm benak kita sendiri. Kita akan memiliki kepekaan dan ketajaman sebagai hasil dzikir dan tafakur yg berkesinambungan itu. Setiap kali terlintas suatu niat jahat atau buruk, maka pikiran, perasaan dan pandangan baik kita dapat segera mengetahui dan mengendalikan diri utk menghancurkan niat jahat atau buruk itu.Sungguh tepat sekali apa yg diwasiatkan Amir bin Abi Qais rahimullah, "Aku mendengar bukan satu kali, dua kali atau tiga kali dari sahabat nabi yg mengatakan, "Sesungguhnya pelita atau cahaya keimanan itu ada pada tafakur." Sofyan bin Uyainah juga pernah mengatakan, "Pemikiran itu adalah cahaya yg masuk dlm hatimu dan mungkin bisa digambarkan spt dalam syair: 'Jika seseorang bertafakur, maka segala sesuatu ada pelajaran baginya" (Tafsir ibnu Kastir, 1/438)Atau lihatlah kebiasaan bertafakur Abu Sulaiman ad-Darani, seorang shalih dari generasi tabiin, sehingga ia kerap dapat memetik pelajaran utk dirinya. "Sekedar aku keluar dari rumah dan apa yg tertangkap oleh mataku, pasti aku melihat bahwa ada nikmat Allah atasku dari apa yang kulihat. Dan dari sana aku memetik pelajaran untukku." (Tafsir Ibnu katsir, 1/438).Saudaraku,Pernah ada seorang pemuda yg mengeluh akan kebekuan hatinya kepada seorang ulama besar, hasan al-banna. Hasan al-banna lalu mengatakan, "Berfikirlah dan berdzikir dlm waktu-waktu senyap, saat-saat kesendirian. Munajat dan merenungi alam semesta yg sangat istimewa dan menganggumkan, kemudian mengangungkan keindahan dan kemuliaan Allah dari alam semesta itu, lalu menyinambungkan kegiatan seperti itu, berlama - lama memikirkan hal itu dgn menghadirkan keangungan Sang Pencipta. Menggerakkan hati, lisan terhadap semua tanda - tanda keagungan yg menajubkan dan hikmah Allah yg sangat tinggi. Semua itu wahai saudaraku yang mullia, tafakkur akan menjadikan hatimu hidup, sinarnya akan menerangi seluruh sisi jiwa dgn keimanan dan keyakinan. Bukankah Allah SWT berfirman dlm al-Qur`an, "Sesungguhhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam adalah tanda-tanda bagi ulul albab (orang yang berakal)". (al-Aqidah, Sayyid Qutb,104).Pikirkanlah, Allah selalu melihat di mana saja kita berada. Kekuasaan-Nya sangat dekat dgn diri kita bahkan ada di urat nyawa kita. Mungkin, meski sangat dekat, kita tidak merasakannya. Kita sudah melakukan kesombongan dan maksiat yg menyebabkan kita menjadi semakin 'jauh' dengan Allah. Dosa kita menjadi 'hijab' yg menghalangi kita dari merasakan kebesaran Allah SWT. Siapa yg merasakan kebesaran Allah SWT, siapa yg merasakan keadaan ini? Hanya kita sendiri. Orang lain tidak dapat menilai sejauh mana kedekatan kita dgn Allah kecuali hanya melihat dan menilai secra zahir. Sementara dari segi batinnya, hanya Allah yg Maha Mengetahui.Mari sama-sama bertafakur saudaraku,Bertafakur, apakah semua nikmat Allah itu sudah kita syukuri. Bertafakur, apakah karunia Allah di alam semesta ini telah menjadikan kita lebih mencintai dan mengagungkan Allah sebagai Penciptanya? Bertafakur, bagaimana kehidupan kita di akhirat? Bertafakurlah, bagaimana nasib kita setelah mati? Bertafakurlah, bagaimana keadaan kita di dalam kuburan? Bertafakurlah apakah kita akan memasuki surga atau neraka? Bertafakurlah, apakah timbangan amal kita sudah cukup?Bertafakurlah. ..

Thursday, October 19, 2006

Homework from Halaqoh

Sekitar sebulan yg lalu ada PR buat cari cerita shohabat Rasulullah, tapi gak pernah ketemu selain yang Khulafaur Rasyidin. Biarain aja lah ini juga bisa jadi cerita mungkin.

Usamah ra. sebagai Panglima Ibnu Asakir telah memberitakan dari Az-Zuhri dari Urwah dari Usamah bin Zaid ra. bahwa Rasulullah SAW memerintahkannya untuk menyerang suku kaum Ubna pada waktu pagi dan membakar perkampungannya. Maka Rasulullah SAW berkata kepada Usamah: "Berangkatlah dengan nama Allah!". Kemudian Rasulullah SAW keluar membawa bendera perangnya dan diserahkannya ke tangan Buraidah bin Al-Hashib Al-Aslami ra. untuk dibawa ke rumah Usamah ra. Beliau juga memerintahkan Usamah untuk membuat markasnya di Jaraf di luar Madinah sementara kaum Mukmin membuat persiapan untuk keluar berjihad. Maka Usamah ra. mendirikan kemahnya di suatu tempat berdekatan dengan Siqayat Sulaiman sekarang ini. Maka mulailah orang berdatangan dan berkumpul di tempat itu. Siapa yang sudah selesai kerjanya segera datang ke perkemahan itu, dan siapa yang masih ada urusan diselesaikan urusannya terlebih dahulu. Tiada seorang pun dari kaum Muhajirin yang unggul, melainkan dia ikut dalam pasukan jihad ini, termasuk Umar bin Al-Khatthab, Abu Ubaidah, Sa'ad bin Abu Waqqash, Abul A'war Said bin Zaid bin Amru bin Nufail radiallahuanhum dan banyak lagi para pemuka Muhajirin yang ikut serta. Dari kaum Anshar pun di antaranya Qatadah bin An-Nu'man dan Salamah bin Aslam bin Huraisy ra.huma dan lain-lain. Ada di antara kaum Muhajirin yang kurang setuju dengan pimpinan Usamah ra. itu, karena usianya masih terlalu muda (18 tahun). Di antara orang yang banyak mengkritiknya ialah Aiyasy bin Abu Rabi'ah ra. dia berkata: "Bagaimana Rasuluilah mengangkat anak muda yang belum berpengalaman ini, padahal banyak lagi pemuka-pemuka kaum Muhajirin yang pernah memimpin perang". karena itulah banyak desas-desus yang memperkecilkan kepemimpinan Usamah ra. Umar bin Al-Khatthab ra. menolak pendapat tersebut serta menjawab keraguan orang ramai. Kemudian dia menemui Rasulullah SAW serta memberitahu tentang apa yang dikatakan orang ramai tentang Usamah. Beliau SAW sangat marah, lalu memakai sorbannya dan keluar ke masjid. Bila orang ramai sudah berkumpul di situ, beliau naik mimbar, memuji-muji Allah dan mensyukurinya, lalu berkata: "Amma ba'du! Wahai sekalian manusia! Ada pembicaraan yang sampai kepadaku mengenai pengangkatan Usamah? Demi Allah, jika kamu telah menuduhku terhadap pengangkatanku terhadap Usamah, maka sebenarnya kamu juga dahulu telah menuduhku terhadap pengangkatanku terhadap ayahnya, yakni Zaid. Demi Allah, si Zaid itu memang layak menjadi panglima perang dan puteranya si Usamah juga layak menjadi panglima perang setelahnya. Kalau ayahnya si Zaid itu sungguh sangat aku kasihi, maka puteranya juga si Usamah sangat aku kasihi. Dan kedua orang ini adalah orang yang baik, maka hendaklah kamu memandang baik terhadap keduanya, karena mereka juga adalah di antara sebaik-baik manusia di antara kamu!". Sesudah itu, beliau turun dari atas mimbar dan masuk ke dalam rumahnya, pada hari Sabtu, 10 Rabi'ul-awal. Kemudian berdatanganlah kaum Muhajirin yang hendak berangkat bersama-sama pasukan Usamah itu kepada Rasulullah SAW untuk mengucapkan selamat tinggal, di antaranya Umar bin Al-khatthab ra. dan Rasulullah SAW terus mengatakan kepada mereka: "Biarkan segera Usamah berangkat! Seketika itu pula Ummi Aiman ra. (yaitu ibu Usamah) mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata: "Wahai Rasulullah! Bukankah lebih baik, jika engkau biarkan Usamah menunggu sebentar di perkemahannya, sehingga engkau merasa sehat, karena, jika Usamah ra. berangkat juga dalam keadaan seperti ini, tentulah dia akan merasa bimbang dalam perjalanannya!". Tetapi Rasulullah SAW tetap mengatakan: "Biarkan segera Usamah berangkat!".Orang ramai sudah berkumpul di perkemahan pasukan Usamah itu, dan mereka menginap di situ pada malam minggu itu. Usamah datang lagi kepada Rasulullah SAW pada hari Ahad dan Beliau SAW terlalu berat sakitnya, sehingga mereka memberikannya obat. Usamah menemui Beliau sedang kedua matanya mengalirkan air mata. Ketika itu Al-Abbas berada di situ, dan di sekeliling Beliau ada beberapa orang kaum wanita dari kaum keluarganya. Usamah menundukkan kepalanya dan mencium Rasulullah SAW sedang Beliau tidak berkata apa-apa, selain mengangkat kedua belah tangannya ke arah langit serta mengusapkannya kepada Usamah. Berkata Usamah: "Aku tahu bahwa Rasulullah SAW mendoakan keberhasilanku. Aku kemudian kembah ke markas pasukanku". "Pada besok harinya, yaitu hari Senin, aku menggerakkan pasukanku sehingga kesemuanya telah siap untuk berangkat. Aku mendapat berita bahwa Rasulullah SAW telah segar sedikit, maka aku pun datang sekali lagi kepadanya untuk mengucapkan selamat tinggal, kata Usamah". Beliau berkata kepadaku: "Usamah! Berangkatlah segera dengan diliputi keberkatan dari Allah!". Aku lihat isteri-isterinya cerah wajah mereka karena gembira melihat beliau sedikit segar pada hari itu. Kemudian datang pula Abu Bakar ra. dengan wajah yang gembira, seraya berkata:"Wahai Rasulullah! Engkau terlihat lebih segar hari ini, Alhamduillah. Hari ini hari pelangsungan pernikahan puteri Kharijah, izinkanlah aku pergi". Maka Rasulullah SAW mengizinkannya pergi ke Sunh (sebuah perkampungan di luar kota Madinah), Usamah ra. pun kembali kepada pasukannya yang sedang menunggu penntahnya untuk bergerak, dan dia telah memerintahkan siapa yang masih belum berkumpul di markasnya supaya segera datang karena sudah tiba waktunya untuk bergerak. Belum jauh pasukan itu meninggalkan Jaraf, tempat markas perkemahannya, datanglah utusan dari Ummi Aiman memberitahukan bahwa Rasulullah SAW telah kembali ke rahmatullah. Usamah segera memberhentikan pergerakan pasukan itu, dan segera menuju ke kota Madinah bersama-sama dengan Umar ra. dan Abu Ubaidah ra. ke rumah Rasulullah SAW dan mereka mendapati beliau telah meninggal dunia. Beliau wafat ketika matahari tenggelam pada hari Senin malam 12 Rabi'ul-awal. Kaum Muslimin yang bermarkas di Jaraf tidak jadi berangkat ke medan perang, lalu kembali ke Madinah. Buraidah bin Al-Hashib yang membawa bendera Usamah, lalu menancapkannya di pintu rumah Rasulullah SAW. Sesudah Abu Bakar ra. diangkat menjadi Khalifah Rasulullah SAW dia telah menyuruh Buraidah ra. mengambil bendera perang itu dan menyerahkan kepada Usamah, dan supaya tidak dilipat sehingga Usamah memimpin pasukannya berangkat ke medan perang Syam. Berkata pula Buraidah: "Aku pun membawa bendera itu ke rumah Usamah , dan pasukan itu pun bergerak menuju ke Syam". Setelah selesai tugas kami di Syam, kami kembali ke Madinah dan bendera itu terus saya tancapkan di rumah Usamah sehingga Usamah meninggal dunia. Apabila berita wafatnya Rasulullah SAW sampai kepada kaum Arab, sebagian mereka telah murtad keluar dari agama Islam. Abu Bakar ra. memanggil Usamah lalu menyuruhnya supaya menyiapkan diri untuk berangkat memerangi bangsa Romawi sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW sebelum wafatnya dahulu. pasukan Islam mulai berkumpul lagi di Jaraf di perkemahan mereka dulu. Buraidah ra. yang diamanahkan untuk memegang bendera perang telah berada di markasnya di sana. Tetapi para pemuka kaum Muhajirin yang terutama, seperti Umar, Usman, Abu Ubaidah, Sa'ad bin Abu Waqqash, Said bin Zaid dan lainnya mereka telah datang kepada Khalifah Abu Bakar ra. seraya berkata: "wahai Khalifah Rasulullah! Sesungguhnya kaum Arab sudah mula memberontak, dan adalah tidak wajar engkau akan membiarkan pasukan Islam ini meninggalkan kami pada masa ini. Bagaimana kalau engkau pecahkan pasukan ini menjadi dua. Yang satu untuk engkau kirimkan kepada kaum Arab yang murtad itu untuk mengembalikan mereka kepada Islam, dan yang lain engkau pertahankan di Madinah untuk menjaganya, siapa tahu kalau-kalau ada yang datang untuk menyerang kita dari mereka itu. Kalau tidak, maka yang tinggal di sini hanya anak-anak kecil dan wanita saja, bagaimana mereka dapat mempertahankannya? Seandainya engkau menangguhkan memerangi kaum Romawi itu, sehingga keadaan kita dalam negeri aman, dan kaum Arab yang murtad itu kembali ke pangkuan kita, ataupun kita kalahkan mereka terlebih dahulu, kemudian kita mengirim pasukan kita untuk memerangi bangsa Romawi itu, bukankah itu lebih baik?! Kita pun tidak merasa bimbang dari bangsa Romawi itu untuk datang menyerang kita pada masa ini!. Abu Bakar ra. hanya mendengar bermacam-macam pandangan dari para pemuka Muhajirin itu. Setelah selesai mereka berkata, maka Abu Bakar ra. bertanya lagi: Adakah yang mau memberikan pendapatnya lagi, atau kamu semua telah memberikan pendapat kamu?! jawab mereka: "Kami sudah berikan apa yang harus kami sampaikan!". "Baiklah, kalau begitu. Saya telah dengar semua apa yang hendak kamu katakan itu", ujar Abu Bakar. Demi jiwaku yang berada di tangannya! Kalau aku tahu bahwa aku akan dimakan binatang buas sekalipun, niscaya aku tetap akan mengutus pasukan ini ke tujuannya, dan aku yakin bahwa dia akan kembali dengan selamat. Betapa tidak, sedang Rasulullah SAW yang telah diberikan wahyu dari langit telah berkata: "Berangkatkan segera pasukan Usamah". Tetapi ada suatu hal yang akan aku beritahukan kepada Usamah sebagai panglima pasukan itu. Aku minta darinya supaya memembiarkan Umar tetap tinggal di Madinah untuk membantuku di sini, karena aku sangat perlu kepada bantuannya. Demi Allah, aku tidak tahu apakah Usamah setuju atau tidak. Demi Allah, jika dia enggan membenarkan sekalipun, aku tidak akan memaksanya! Kini tahulah para pemuka Muhajirin itu, bahwa khalifah mereka yang baru itu telah berazam sepenuhnya untuk mengirim pasukan Islam, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW sebelumnya. Abu Bakar ra. lalu pergi ke rumah Usamah ra., dan memintanya agar membiarkan Umar ra. tinggal di Madinah untuk membantunya. Usamah ra. setuju. Untuk meyakinkan dirinya, maka Abu Bakar ra. berkata lagi: "Benar engkau mengizinkannya dengan hati yang rela?" Jawab Usamah: "ya!". Khalifah Abu Bakar ra. lalu mengeluarkan perintah supaya tidak ada seorang pun mengelakkan dirinya dari menyertai pasukan Usamah itu sesuai dengan perintah Rasulullah SAW sebelum wafatnya. Dia berkata lagi: "Siapa saja yang melewatkan dirinya untuk keluar, niscaya aku akan menyuruhnya mengejar pasukan itu dengan berjalan kaki". Kemudian Abu Bakar ra. memanggil orang-orang yang pernah mengecil-ngecilkan pengangkatan Usamah sebagai panglima perang, dan memarahi mereka serta menyuruh mereka ikut keluar bersama-sama pasukan itu, sehingga tiada seoran pun yang berani memisahkan dirinya. Apabila pasukan itu sudah mulai bergerak, Abu Bakar ra. datang untuk mengucapkan selamat berangkat kepada mereka. Usamah mendahului para sahabatnya dari Jaraf, dan mereka kurang lebih 3,000 orang, di antaranya ada 1,000 orang yang menunggang kuda. Abu Bakar ra. berjalan kaki di sisi Usamah ra. untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya: "Aku serahkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan kesudahan amalmu! Sesungguhnya Rasulullah SAW sudah berpesan kepadamu, maka laksanakanlah segala pesannya itu, dan aku tidak ingin menambah apa-apa pun, tidak akan menyuruhmu apa pun atau melarangmu dari apa pun. Aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh Rasuluflah SAW saja". Usamah ra. dan pasukannya maju dengan cepat. Dia telah melalui beberapa negeri yang tetap mematuhi Madinah dan tidak keluar dari Islam, seperi Juhainah dan lainnya dari suku kaum Qudha'ah. Apabila dia tiba di Wadilqura, Usamah mengutus seorang mata-mata dari suku Hani Adzrah, dikenal dengan nama Huraits. Dia maju meninggalkan pasukan itu, hingga tiba di LThna dan dia coba mendapatkan berita di sana, kemudian dia kembali secepatnya dan baru bertemu dengan pasukan Usamah sesudah berjalan selama dua malam dari Ubna itu. Huraits lalu memberitahu Usamah, bahwa rakyat di situ masih belum berbuat apa-apa. Mereka belum berkumpul untuk menentang pasukan yang mereka, dan mengusulkan supaya pasukan Usamah segera menggempur sebelum mereka dapat mengumpulkan pasukan. (Ibnu Asakir: At-Tarikh 1:120, Kanzul Ummal 5:312. Fathul Bari 8:107)

Wednesday, October 18, 2006

Sunday, October 15, 2006

Sincerity Coming from The Heart

Remembering the research about the word Insya Alloh by Joko Susanto in University of Queensaland, I found there are a few voilation against the sacred expression as such. This remind me the idea that came to me as a lady wishpered to tell me to say "MasyaAlloh" when I have to praise the child. I was just feel odd as apparently my level of piety was not as high as hers. This is so un me, I thought. Still the expression wouldn't come out from my mouth - I admitted I just said Subhanalloh once. The arabic expression I currently use in my subconscious mind are just very simple like Astagfirullah, Insyaalloh - with some meaning violated, Alhamdulillah and Bismillah and MasyaAlloh in a very limited condition. I just don't want to - kind of - utter those unfamiliar expression like masyaAlloh or Subhanalloh in the wrong context and without my sincerity. I plan one day, I would say those dzikr expression when I am ready and those exprssion are coming from my deep in side. I just don't want to say it becoz of others or for showing off that my level of piety is higher than others. Naudzubillah. I just coudn't be up to the scratch.

Sunday, October 08, 2006

Energized Up Ramadhan in Children Pesantren

It was unexpected that I was willing to come for the invitation for being a commitee of Islamic short course in Ramadhan. I just didn't understand my slacking habit suddenly disappeared. Alhamdulillah, most of the commitee were among the close friends. In the first meeting I proposed my daughter song that I wrote long time ago. Then I remember the Islamic holiday activity in Southbank where Lara made a middle eastern doll. The experience inspired me to apply what I had learnt in multiliteracies study about the framework. I was thinking that the New london Groups' fourth concept (Situated Practice, overt instruction, critical faming (irrelevant in this case) and the transform practice) can be applied in this short course, implementing concept through real work and practice. Then I just took the three of them. Their real works were prtrayed though the doll making "women in hijab" and the Mosque collage.
To cut the story short, we arranged everythings in our best ideas. Lots of inspiration came through. The plan and the booklet had in the final draft with lots of activities for children. We devided the kids into two groups, the above 9 and the under 9. The girls took the the younger one as the boys seemed to be not really ready with younger kids. It looked to me everything would be undercontrol including the funds from the Moslem society had no problem at all though the reimbursment system was applied. I didn't mind using my financial source at all. We bought, craft material, goodies bag, and bit and pieces for the whole lots, as well as lots of presents for kids for the winner in the competition. The competition covered; Show n tell with islamic collage - how they could tell their pictorial stimuli in the relation to Islam; Short du'ahs recitation; the best Ied card and the surah recitation.

Monday, October 02, 2006

Songs In Ramadhan

It's been along time I've been thinking about how the children learn Islam in a fun way. I don't wanna hear any more about the little kid's comment "I don't wanna do shalat", "what for we do all these?" n the unexpected question "Mommy when you were a kid, did you choose Islam to be your religion?" It was schoking. What did I have to answer? Time after time all the complaints and the schocking question has been answered without being said. All those things made me make up my mind to put her through into our best way of living.

Having some new experience working in a childcare centre, I understand now, kids always want to be active, fun, move, sing and playing silly things. Then lately I was called by a friend who will host the molem short course activity welcoming Ramadhan. I was just thinking about the song I wrote for my daughter. I looked up my diary where I wote them, expecting to be useful for the short course. I wote the religious lyrics and using the Nursery Rhymes, and I got them.


This is the way ....
This is the way we do wudhu, do wudhu, do wudhu
This is the way we do wudhu,
Before we do shalah

Fasting in Ramadhan
We are fasting, we are fasting
Becoz of Allah, becoz of Allah
Fasting in Ramadhan, fasting in Ramadhan
All day long, all day long



Iedul Fitri
Everybody's happy
When Iedul fitri comes
Comes to the mosque
To celebrate the day
We are all happy no matter who we are
and Everybody's happy
When Iedul fitri comes


Learn to Shalah
When I was 4 I learnt shalah
The way that moslems do
We face Kiblah to do shalah and never to forget
We do Shubuh, Dzuhr, Ashr, Maghrib, Isya
We do them everyday
We feel happy after shalah coz Allah will love us
Lyrics are copyrighted - all originally written by afi



Islamic activity in SouthBank

What a coincidence, this school holiday comes together with Ramadhan. In the first week of the school holiday Southbank Parkland held numerous remarkable activities. What came to make it special was that the activities were about the Art Workshop. General/Aussy Art Workshop might sound ordinary but last week (I'm not sure this week) the theme of the workshop was about the Islam. I wondered if they made it because school holiday and Ramadhan or else. The nuance of Islam colored the Suncorp Piazza, like the sound of Adzan, Cat Steven Nasyid and many more such as Asma'ul Husna. The sound was explained to the participant who were mostly Australian and not moslems in the middle of the workshop by a moslem lady who was hired to guide the Islamic Art Workshop. She was Shamima with her 3-year-old kid. We had a little chat talking about learning (introducing) Islam through art for kids and she invited me to the Kuraby mosque to have the Islamic Play Group that I was hopeless to join due to the distance. The workshop she hosted was making a middle eastern doll with a head cover. And I think it was only their "Hands On Art" terminology - It doesn't mean all middle easterner women are moslem, anyway whatever the name was, this was gonna be good. The title of the program was


The same but different- It's A Wrap and Middle Eastern Doll

Hands On Art and South Bank Corporation present Islamic Art workshops for children of all
ages.

Hijab is a head cover that Muslim women usually wear to cover their
hair and head. In this workshop children explore the meaning and value of hair
covering, and learn the different ways of wrapping a scarf or cloth around the
head. The workshop involves painting on large rectangular pieces of fabric. Kids
create a scarf design inspired by Islamic art. Making a doll with any types of hijab in different moslem countries.

So they introduced the Aussy kids what hijab was and they were allowed to ask anything about Islam. This was a good point where people out there would no more put us in a bad stereotyping. This was a kind of eliciting awareness through non-moslem community.

Across the Piazza the Bungee Trampoline was really the biggest temptation for Lara. Trying the Trampoline for $10 wouldn't dig my deep wallet as long as she finished her fasting until 12.00. She did it and got the reward for fasting.

Pacific Fly Motion Bungee Trampoline
A four in one bungee
trampoline for anyone of any age group. Secured and safe in an adjustable,
purpose built harness, people are free to experiment with acrobatic movements or
simply jump as high as they can.

Wednesday, September 27, 2006

Ramadhan Day 3

Photobucket - Video and Image Hosting
Lara makan sahur in bed 27/09/06

Everybody's happy when the Ramadhan is coming. Seribu satu alasan mengapa semua pada happy kalo Ramadhan tiba. Zaman anak-anak dulu alasannya karena pengen cepet Ied, kalo udah Ied dapet baju baru n angpau dari sana sini. Itu tentu saja terjadi karena lingkungan mendukung, coba Lara, kayaknya biasa-biasa aja - Ramadhan atau bukan sama saja. Di sekolah sama saja morning tea - lunch - afternoon tea. Oke gak papa disekolah tetap rutin tapi Ramadhan kali ini Lara udah lima tahun at least kenal apa itu Ramadhan dan pembiasaan apa dos and don'ts selama Ramadhan. Diceritain Mia (tantenya) udah tamat puasa sebulan penuh pas umur 5 tahun ternyata tertarik juga dan penasaran what's the reason. Tante Mia bilang katanya takut masuk neraka dan alhamdulillah jadi motivasi untuk ikutan puasa. Jadi di rumah puasa di sekolah nggak. Yang essential lagi adalah menerapkan konsep puasa buat Lara, minimal apa itu sahur, puasa dan buka dan do'a.

Baca posting bu Tia di milis tentang Indahnya Ramadhan di tanah air keliatannya asik juga posisi di Indo memungkinkan anak untuk belajar lebih banyak - peer learning. Tapi Ramadhan di Brisbane kali ini tak kalah indah juga dengan di Indo dan akan menjadi kenangan manis. Alhamdulillah Ramadhan kali ini mudah-mudahan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Sehari sebelum Ramadhan kami dapat tele-taujih dari Ustadz Ahmad Sarwat Lc. (pengasuh tanya jawab di eramuslim.com) tentang Tarhib Ramadhan, kami bisa interaksi langsung dan tanya jawab. Setelah beres kami berbagi cerita apa aja yang ingin kita dapatkan di bulan suci ini, semuanya harus berlomba berbuat kebaikan (Fastbiqul Khairat). Biar ceritanya seru maka di bikin per point tentang apa harapan kita setelah Ramadhan lewat dan ditulis di secarik kertas - salah satu rekan kasih intruksi ini. Kebanyakan akhwat heran juga ngapain yaa ... kirain mau dikumpul dan dibaca orang lain, ternyata setelah semua selesai menulis, rekan kami malah menyuruhnya menyimpan baik-baik untuk dibuka setelah Ramadhan nanti. Kita bisa tahu apakah yang kita tulis tadi sudah terlaksana setelah menjalankan ibadah puasa. Saya pikir ini briliant idea untuk memacu kita menjadi muslimah yang lebih baik. Kalo boleh jujur salah satu harapan saya adalah seperti yang di ceritakan bu Tia tentang ceramahnya AA Gym, menahan amarah dan sabar - ingin menahan diri untuk tidak protes melulu kalo di dzalaimi. Setelah kami simpan baik-baik kertas tadi kami diberi secarik kertas lagi dengan judul "Mutaba'ah Ramadhan" (buat yang bersedia) menuliskan target program amal sholeh selama Ramadhan dan apakah sehabis Ramadhan ibadah kita improve? Setiap carikan kertas yang dibagikan bukan untuk siapa-siapa tapi hanya untuk diri sendiri, untuk muhasabah diri. InsyaAlloh dengan begini kita jadi harus kejar setoran dan memotivasi karena lebih organised, minimal berniat menjadi lebih baik. Buat saya ini pengalaman berharga yang saya dapatkan di Brisbane. Tambahannya adalah acara hiburan, seperti biasa setelah memabahas kajian kami membahas sajian lengkap dengan membahas resepnya. Berhubung direncanakan puasa hari Minggu di Brisbane jadi kami siap-siap menyediakan iftar padahal puasanya besok jadi apa boleh buat es campur dan bakso malang campur dan mie ayam jadi menu untuk acara munggahan kayak Bu Tia di Bandung. Alhamdulillah kami masih bisa menikmati puasa di negeri orang.