Friday, September 22, 2006

A M I G O

Photobucket - Video and Image Hosting

Ada dua judul yang pas dari hikmah republika hari ini dan kemaren dengan sebuah topik pertemanan. Judul kemarin adalah Keutamaan Jujur dan judul hari ini adalah Memaknai Sabar. Kedua kata ini adalah kata mulia yang bisa memelihara sebuah pertemanan yang fair dengan siapapun, perempuan dan laki-laki. Mungkin sabar adalah segalanya untuk menjaga hubungan baik dengan teman, tapi jujur adalah kata kedua yang akan datang setelah kesabaran habis. Bila jujur tidak datang tak tahu apa yang akan terjadi dalam berteman. Satu sama lain akan syak wasangka, bersu'udzhanism satu sama lainnya karena tidak dikomunikasikan. Komunikasi dengan alat bahasa adalah hal terpenting dalam berinteraksi dengan sesama. Secara teori mengkomunikasikan sesuatu yang kurang beres itu memang perlu dan akan menjadi solusi tetapi dalam kultur kita apakah hal ini cukup bisa diterima oleh setiap orang dengan background yang sangat beragam. Jadi inget lecture-nya Michael harrington, Selasa lalu, ketika membahas literacy dalam konteks sosial. Katanya tingkat literacy di working class dan di middle class exposure literacy berbeda - dalam artian tingkat exposure terhadap tulisan dan bahasa. Entah benar atau tidak, namanya juga theory, katanya exposure literacy middle class nota bene terorganisir dengan baik sehingga mereka bisa memanfaatkan bahasa untuk menjadi pemecahan masalah, berbeda dengan the working class. Teory ini asal usulnya dari si Vigotsky yang bilang " The skills, concepts, and ways of thinking that an individual develops reflect the uses and approaches that permeate the community or social groups of which that person is a member". Harrington waktu itu mengilustrasikan seorang anak yang gak suka makan peas dengan dua konteks; working class dan middle class. Dia bilang di working class conversation akan seperti ini:

  • anak: "I don't like peas"
  • ayah: "Eat your peas!!"
  • anak: "why should I eat peas?"
  • ayah: ayah terdiam dan marah, bisa jadi sampai anak nya di sentil

sedangkan di middle class

  • anak: "I don't like peas"
  • ayah: "Why you don't like peas?"
  • anak: "why should I eat peas?"
  • ayah: "Because peas is good for your health, ok ... let's see what we can do about this."

Jadi bila ada problem, salah satu untuk mencapai solusinya adalah dengan berdiskusi, menggunakan bahasa sesuai dengan fungsinya untuk memecahkan masalah bukannya dengan si anak bertanya "why should I eat peas?" orang tua malah merasa dibantah dan marah jadi semua tak terkomunikasikan. Konteks working dan middle class ini cuma untuk illustrasi, terlepas dari diskriminasi, lagian ini cuma teorinya si Mbah Vigotsky.

Kembali ke jujur tadi, komunikasi adalah suatu bentuk kejujuran untuk solving the problem. Dalam artikelnya Kholil Misbach Lc menulis "Jujur merupakan sikap terpuji yang dianjurkan oleh agama, ia selalu bersanding dengan kebenaran yang harus dikawal dan ditegakkan, bahkan Allah SWT menyebut diri-Nya dengan Al-Haq yang artinya Mahabenar." Dia menulis ada enam point tentang kejujuran(lihat Keutamaan Jujur), yang sesuai dengan konteks ini adalah poin ke satu dan ke empat yaitu:

  • Pertama, perasaan enak dan hati tenang, jujur akan membuat pelakunya menjadi tenang karena ia tidak takut akan diketahui kebohongannya. Baginda Rasul SAW bersabda, ''Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu, sesungguhnya jujur adalah ketenangan sedangkan dusta adalah keraguan.'' (HR Turmudzi dari riwayat Hasan bin Ali).
  • Keempat, selamat dari bahaya. Orang yang jujur walaupun pertama-tama ia merasa berat akan tetapi pada akhirnya ia akan selamat dari berbagai bahaya. Rasulullah SAW telah bersabda, ''Berperangailah selalu dengan kejujuran! Jika engkau melihatnya jujur itu mencelakakan maka pada hakikatnya ia merupakan keselamatan.'' (HR Ibnu Abi Ad-Dunya dari riwayat Manshur bin Mu'tamir).

Kembali lagi keawal, bila jujur tak datang setelah sabar habis maka lihat point keempat. Seorang teman mungkin akan schock bila kita mau jujur dan ingin memahami arti sebuah teman - dalam koteks kesabaran sudah surut. Bila niat bersilaturahmi masih tebal dan masih ingin memperbaiki hubungan persahabatan, kejujuran adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh walaupun pada awalnya jujur itu seperti akan mencelakakan tapi pada hakikatnya jujur adalah keselamatan. Hubungan kedua belah pihak akan menemui point pertama, perasaan akan enak dan hati tenang karena tidak takut akan diketahui kebohongannya.

No comments: